OBROLAN MACAM APA INI?
"Kamu tau jalan yang paling aku tidak suka?"
Entah kenapa pertanyaan ini yang terlintas di loker bahan obrolanku kali ini. Mungkin ini hanya pembuka atau hanya sapaan hangatku untukmu. Semoga setelah ini tidak ada lagi obrolan tidak jelas sebab kebingunganku.
"Apa?" Jawabmu sambil tetap memegang ponsel entah dunia apa yang sedang kamu jelajahi. Sedikit melenceng dari harapan sukaku. Harapanku kita berbincang sembari meminum jus di meja kotak berkursi dua. Sambil seserian menanggapi apa yang kita bicarakan. Apalah daya, kita hanya sedang dipaksa meneduh dan mungkin tak sengaja berdua. Terimakasih hujan, ujarku. Entah apa ujarmu.
"Jalan Citeurep-Gunungputri" Ucapku.
Sambil memandang ke arah hujan yang belum juga menandakan pulang. Mungkin itu jawaban atas harapan kecil di hatiku. Lalu aku kembali memandangmu sekilas yang aku sadari masih memilih sibuk dengan dunia yang sedang kamu nikmati.
"Kok?" Hanya suaramu yang datang menemaniku. Aku tersenyum kecil. Sungguh satu hal ini yang aku sangat syukuri. Kalau saja kamu memilih diam dan membeku mungkin aku akan memilih basah sampai rumah ketimbang menemanimu sampai hujan pulang. Atau malah menyalakan rokokku dan menyibukkan diri dengan duniaku. Sama sepertimu.
"Karena di jalan itu tidak ada 'kamu'."
Aku mengucapkannya sambil melihat jam yang sudah menunjukan waktu maghrib. Sambil menyodorkan tangan ke langit. Memastikan hujan masih deras. Setelah itu merogoh kantong berisi sisa rokok tadi bersama teman. "Iya, mungkin itu" ucapku sambil membawa rokok ke depan mulutku.
"Maksudnya?" Katamu. Sambil memasukkan ponselmu ke dalam saku kananmu. Walaupun pandanganmu sekarang tertuju ke hujan di jalan. Tapi itu membuatku diam sesaat dengan rokok di mulut. Menyimak gerak-gerikmu seperti ingin tahu. Kamu tau? Aku senang.
Tanganku memulangkan kembali rokok ke dalam saku kiriku. Menghela nafas, seakan ingin mengucapkan apa-apa yang sudah lama tersimpan rapih di almari sukaku.
"Iya, mungkin itu alasannya" sembari memperhatikanmu yang mengulang gerakanku memastikan hujan masih deras.
"Iya kenapa?" Kali ini, matamu dan mataku bertemu. Walaupun gelap maghrib dan mendung hujan sedang berpelukan, jelas sekali ada senyum yang kamu berikan kepadaku.
"Haha, kamu sekarang adalah kamu yang aku selalu bawa dalam kata suka. Aku suka kamu" sayangnya pernyataan ini hanya terucap di dalam hati. Hanya tertawa kecil yang benar-benar keluar.
"Hi, ketawa doang. Gak jelas" ujarmu kesal. Meninggalkan wajahku dengan lucu. Aku kembali tertawa. Kemudian kamu hanya menginjak-injak bumi seperti layaknya anak kecil yang malu namun kesal.
"Iya. Aku tidak suka dengan jalan itu. Sebab di jalan itu tidak ada kamu" aku mengatakannya dengan sedikit pelan dan sambil melihat hujan yang ternyata sudah mulai bergiliran pulang. Kamu masih diam melihat ke jalan.
"Di jalan itu tidak ada rumah 'kamu', bersama 'kamu', mememani 'kamu', suara motor 'kamu', bunyi klakson 'kamu' kalau aku mengambil rem dadakan, bentuk lucu helm 'kamu' dan semua tentang kamu tidak ada di jalan itu. Di jalan itu pasti hanya aku sendiri tidak ada kamu. Karena rumahmu bukan lewat jalan itu"
Setelah itu kita hanya saling diam dan mengambil kunci motor masing-masing. Lalu memakai helm masing-masing. Lalu menyalakan motor masing-masing.
"Ya sudah. Cepat antar aku pulang" ujarmu.
"Obrolan macam apa ini?" Gumammu sambil tertawa riang. Mungkin kamu senang.
Komentar
Posting Komentar