KISAH KASIH KULIAH - MODIFIKASI

"Iih, coba liat deh"

Ujar perempuan berkacamata yang sedari tadi betah duduk di sampingku. Padahal hanya aku ajak duduk di barisan tangga kampus yang sedang kosong. Biasanya terisi banyak mahasiswa yang sekedar meladeni iseng, sebab menunggu kedatangan dosen. Kini, di tangga tersebut hanya diisi oleh kami berdua saja. Kebetulan dosen di kelasnya belum ada. Sedangkan aku? Aku sudah menyelesaikan tugas dan diizinkan menemui dirinya. Haha, bukan. Bukan begitu. Yang benar adalah aku diizinkan keluar kelas dan kemudian muncul keinginan menemani dirinya. Jadilah kami berdua duduk di sini. Sambil sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Tangannya yang aku kenal sekali (karena setiap kali kita melewati jalan bersama, aku selalu menggenggamnya erat. Apapun alasannya) menyodorkan layar teleponnya. Menunjukan hasil scrolling sosial medianya. Dan yaa, kalian mungkin sudah tahu apa favorit kaum perempuan. K-Pop atau apalah itu sejenisnya. 

"Dia itu Park Hyun Sik. Pemain Drama Korea Happines. Aku baru selesai kemarin nontonnya. Huuuuuh ......... bla bla bla bla" Itu bukan dia sengaja mengucapkan 'bla bla bla bla' ya. Hanya saja aku kira aku tidak perlu menuliskan semuanya secara lengkap. Haha. Terlalu panjang. 

Aku hanya menanggapi dan melihatnya sekilas. Karena juga dia langsung mengarahkan layar teleponnya kembali kepadanya dan ya. Dia kembali scrolling sosial media miliknya. Aku hanya membalasnya dengan senyum. 

Sore ini hujan turun cukup deras. Harum tanah ditimpa hujan begitu khas sampai ke indra penciumanku. Suara-suara atap kampus yang terbuat dari asbes terdengar begitu ramai. Semua itu menemani diriku dan dirinya di barisan tangga ini. Aku duduk di samping kanannya. Sambil melihatnya bermain gadgetnya aku menyalakan rokokku. Tapi tiba-tiba dia memelototiku. Dengan suara yang aku selalu rindukan ketika malam, sebelum dan sesudah tidur. Dia bergegas memarahiku.
"Ngarokok bae. No smoking!" Ujarnya sambil mengangkat jari telunjuknya seperti khatib di mimbar ceramah. Aku tertawa. Memandanginya lekat. 

Dia kekasihku. Kalian mungkin terkejut. Setelah sekian lama aku bersahabat dengan luka dan duka, kini aku berselimut suka dan bahagia. Haha. Aku mengenalnya sudah cukup lama. Tapi hanya sebentar saja. Namun sudah cukup membuat aku merasakan begitu banyak perasaan kepada dirinya. Perempuan di depanku ini cukup begitu mencintai drama-drama korea atau apalah itu. Memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi. Hanya sampai telingaku saja. 

Aku dan dirinya, sebelumnya tidak ditakdirkan saling mengenal satu sama lain. Dia anak baru. Mahasiswa semester 1 (Satu) yang semuanya baru aku tau. Bahkan, tempat dia tinggal saja aku baru mengetahui daerah tersebut. "Ih, masa nggak tau sih kak?" "Serius nggak tau, aku liat maps dulu ya". Aku serius kalau aku tidak mengetahui daerah tempat tinggalnya.

"I love you, bii" Ujarku lirih. 
"Bacot! Hahaa" Balasnya. Tidak sopan, haha.

Tapi itulah dia. Aku bukan mengiyakan dirinya berlaku tidak sopan atau apapun itu. Aku pastikan setelah itu aku balik menceramahinya. Kalau aku tulis semuanya, bisa satu hari satu malam. Hihi, walaupun aku menulis ini pun habis satu bulan. 

"Kamu tau kenapa aku dilahirkan lebih dulu dari kamu?" Sambil mata aku tetap tertuju kepada air Tuhan yang makin deras. 
"Kenapa tuh?" Ya, walaupun aku coba mengajaknya berbicara serius tetapi tetap saja matanya tak bisa lepas dari layar gadget-nya. Biarlah.

"Kalo kamu lahir duluan. Nanti aku yang chat kamu duluan" sambil sedikit terkekeh. Aku juga tidak paham dengan apa yang aku katakan. Tapi dengan begitu aku berhasil mengambil fokusnya.

"Apaan? Gajebo!" Sambil tertawa khas dia punya. Tertawa yang dibarengi dengan suara sesenggukan ringan. Aku selalu suka itu. "Kalo kita lahir barengan?" Dia balik bertanya. 

"Ya-"
"Maksud aku bukan barengan satu orangtua atau satu waktu yaa" Potongnya. Seperti biasa. Merevisi atau menambahkan pertanyaan atau penyataan yang dia berikan. Aku selalu dibuat tertawa ringan karena hal itu.

"Iya-iya. Aku paham" Sambungku langsung.
"Kalo kita lahirnya berbarengan. Bukan orangtua yang sama, bukan waktu yang sama, artinya beda beberapa hari atau minggu atau bulan kali ya. Di tahun yang sama. Atuh makin enak"

"Enaknya?"
"Aku bisa satu kelas sama kamu. Bisa deket sama kamu tanpa harus open chat atau ngobrol online dulu" aku mengatakan hal yang ada di kepalaku lagi. 

"Atuh enggak seru!" 
Ujarnya. Aku kira dia akan tersipu malu atau diam seperti kebanyakan di serial-serial yang aku tonton. Ternyata tidak. 

Tapi aku juga tidak menginginkan hal itu. Sebab sebenarnya banyak laki-laki satu kelasnya yang menyukai dirinya. Tapi tidak ada satupun yang dia jadikan pemenangnya. Aku jelas tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Haha.





Komentar

Postingan Populer