KEMEJA KESAYANGANKU

"Ini pilihanmu, bung!" Ucap kemeja kesayanganku yang sudah cukup lama aku gantung di tembok kamarku. 
"Kamu tidak mau terulang seperti dahulu bukan?" Sambungnya.

Aku menghela nafas. Mengambil sebatang rokok sambil menyiapkan korek di tangan kiriku.

"Aku bukan tidak menerima itu. Aku hanya sedikit merapihkan semuanya. Bukankah resah adalah hal yang wajar?" Jawabku. Rokok aku nyalakan, asap rokok mulai menemani perberbincangan kami.

"Lalu untuk menyambut apa kamu merapihkan semua itu?" Tanyanya lagi. 

"Aku hanya menyiapkan kedatangan sabar dan sadar. Sabar mengerti semuanya. Sadar kalau memang untuk mencapai keinginanku, aku harus sabar."

Dia hanya diam sampai rokokku habis tanpa sisa. 
"Mengapa kamu diam?" Tanyaku kemudian memecahkan keheningan itu.

"Dirimu hanya rajin menata kata dan menyimpan rasa rapat-rapat. Dirimu hanya tau memilih apa yang baik-baik saja. Tanpa tahu bagaimana menyampaikan rasa. Maksudku semua rasa: cinta dan suka. Bahkan duka dan luka. Mungkin di dua pertama kamu bisa. Tapi dua lainnya? Entahlah." Jawabnya. 

Kini aku terdiam. Setelah itu mengambilnya yang lalu aku lipat rapih dan letakkan di almariku. 

"Semangat, bung!" Ujarnya sebelum aku tutup alamariku kencang. 

Komentar

Postingan Populer