ANTAR MAKHLUK BER-PERASAAN

Lagi-lagi hujan. Semakin aku merasa tertinggal di hutan belantara. Sunyi, hening, ramai dengan cemas, dan kuat dengan takut. Aku khawatir.

"Kamu kenapa?" 

Pesan singkat masuk seketika. Aku harap setelah ini tidak ada pesan masuk lagi. Aku masih merasa bingung bagaimana caraku nanti menggambarkan perasaan tadi. Terlalu tidak mungkin apabila aku menggambarkannya terlalu putih, atau hitam, bahkan abu-abu. Ini terlalu sulit untuk aku pahami, apalagi dirinya.

"Sudahlah. Sampaikan! Timbang mampet!" Ujar kucing manisku.
"Iya. Apa dirimu mau semua keluar di kemudian hari?" Sambung kucing kecilku yang satu lagi. 

Bukan! Bukan-bukan itu semua. Aku tidak pernah menghendaki semua hal tidak enak semua itu terjadi. Ayolah! Bantu aku berpikir lebih baik lagi. Setidaknya tidak dengan pilihan yang membuat dirinya didatangi sedih, kelu, beku, atau apa itu semua yang tidak aku inginkan datang pada dirinya. 

"Sebentar-sebentar." Kini, induk dari semua kucingku datang menghampiriku dengan wajah panas. Mungkin kesal. "Kamu memikirkan hal-hal yang harusnya kamu pikirkan juga untuk dirimu! Kenapa hanya kepada dirinya? Dirimu bagaimana?" Matanya menusuk heran jelas pada diriku. 

Memang kenapa? Aku hanya melakukan semua dengan perasaan-perasaanku saja. Bukankah mereka harusnya mendukungku? Menemani keinginanku dengan dorongan dan motivasi?

"Ah, manusia bodoh" Anak kucing manisku meninggalkanku.
"Terlalu berperasaan!" Disusul kucing kecilku satunya.

"Semoga dirimu tak kering, dipeluk semu!" Sambung induk dari mereka semua. Dengan mata memicing lalu meninggalkanku. Abai.

Kini mereka pergi.
Apa salahku? 



(Bogor, 2022)



Komentar

Postingan Populer