Day - 8 : Without You

Aku ragu.
Apakah cerita ini akan berakhir dengan baik. Atau sebaliknya. Sebegitu kuat aku berusaha membuatnya menjadi indah, sekuat itu pula alasan-alasan tidak indah cerita ini mengudara. Menghidupi usaha-usaha itu sendiri. Sehingga yang subur adalah keraguan dan kekhawatiran. Diakhiri pula dengan sedikit kemarahan.

Bagaiamana aku tidak khawatir. Sebelumnya hanya butuh 1 detik dirinya memilih kotak perpisahan. Seketika itu pula dirinya menghilang membawa semua isi di kotak itu. Yang harusnya itu adalah bekal yang bisa dibagi untuk berdua. Cukup untuk bernafas 1 sampai 2 bulan ke depan. Namun, dibawanya semua isi tanpa meninggalkan untukku. Bahkan 1 buah permen coklat di meja tamu favorit kita, tidak dirinya tinggalkan. 

Seketika juga aku khawatir aku hanya bisa menghirup semua keheningan yang disuburkan oleh keraguan. Dan pelan-pelan aku digerogoti kemarahan akan sendiri. 

Pertanyaan-pertanyaan aku harus mengambil jalan yang mana setelah ini, muncul kembali ke permukaan rasa. Membuahi semua perasaan yang tidak menyenangkan bahkan menjengkelkan. Lalu siapa yang akan menjawabnya? Dirinya pun sudah tak ada bahkan tak mau. 

Terkadang, manusia hanya membutuhkan waktu bagi diri sendiri. Memikirkan bagaimana dan seperti apa yang harusnya ada dan tiada. Bisa atau tidak bisa. Kemudian, barulah menyamankan diri. 

Komentar

Postingan Populer