BIRU

"Semangat!"
Sebuah pesan masuk ke ponsel kesayanganku. Menghentikan sejenak musik yang sedang aku putar untuk menemaniku menyelesaikan beberapa hal di laptop. Seketika itu pula aku berhenti menatap apapun yang sedang aku pusingkan di depan mataku. Aku bergegas membuka room chat yang aku sadar, sudah lama aku tidak memasukinya. Tidak usah bertanya apa sebabnya, semua hal sudah aku percayai sebagai hal yang terjadi begitu saja. Tanpa sebab dan tanpa alasan pun bisa dilakukan. 

"Eh? Tumben." Aku membalas cepat. 
"Ruwet banget kayaknya liat di SW lu" jawabnya cepat. 
"Haha, biasa kaum-kaum deadliner"
"Sebelumnya nge-galau mulu, wkwk"

Aku tertawa sejenak. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku sudah tidak lagi berada di fase itu. Walaupun belum sepenuhnya. Tapi biarlah dia tetap beranggapan seperti itu. Biarkan waktu nanti yang memberi tahu semuanya, bahwa aku sudah baik-baik saja. 

"Ya udah. Sok lanjut." 
Pesan terakhir darinya yang setelah itu aku memilih untuk tidak membalasnya. Aku tidak mau berbasa-basi hal lain supaya tetap berbalas pesan dengannya. Karena memang sekarang benar-benar sedang aku harusnya tidak bermain ponsel. Aku putuskan menutup ponsel. Dan melanjutkan semua yang harus aku selesaikan.

Namanya, Biru. Aku tidak mengerti mengapa dia memiliki nama yang benar-benar Indonesia. Yang setelah itu berpengaruh pada semua kehidupannya. Warna kesukaannya, menu favorit yang berunsur biru, tema ponselnya, dan semua hal. Tidak jauh dari unsur biru. Dulu dia mengatakan bahwa biru itu melambangkan ketenangan. Aku tidak mengerti. Tapi aku hargai itu. Karena itu kata dia, bukan kataku. Aku selalu menghargai semua pendapat manusia. Bahkan tetanggaku yang mengatakan aku lucu saja aku tetap hargai. Padahal tidak semua orang suka ditertawakan. 

Dia teman SMA-ku dulu di Yogyakarta. Perempuan pribumi, asli Yogyakarta. Setelah lama aku tidak berhubungan dengannya karena semua teman-teman SMA-ku pergi untuk melanjutkan kehidupan mereka masing-masing, pada hari raya Idul Fitri tahun kemarin aku sengaja mencari akun sosial medianya. Seperti teman lama, kami mengobrol banyak hal. Sampai sekarang. 

Aku bukan tidak pernah mengiriminya pesan atau sapaan. Dari aku mendapatkan nomornya sampai saat ini, kami hanya saling memberikan komentar pada apa yang kami kirim di status sosial media masing-masing. Mungkin aku canggung karena dia sudah memiliki pacar. Dan aku pun saat itu masih memiliki seseorang yang aku sebut pacar. Bisa dianggap saling menghargai. 

Setelah aku memutuskan untuk menyelesaikan hubungan dengan pacarku, tidak lama sebelumnya dia juga baru saja menyelesaikan hubungannya dengan pacarnya. Aku bukan stalking. Tapi dia ceritakan itu kepadaku belum lama ini. Karena akhir-akhir ini kami sedang banyak berbincang. Masih sekedar di pesan-pesan ringan di whatsapp. 

Entahlah. Lagi-lagi aku tidak mau menjelaskan detail sebab mengapa aku begitu. Yang intinya, aku dan dia sedang banyak berbincang. 

Komentar

Postingan Populer